Memantapkan diri untuk melangkah menuju pernikahan bukanlah keputusan yang bisa diambil dalam waktu singkat. Banyak wanita salah mempersepsikan pesta pernikahan (wedding) dengan pernikahan (marriage) itu sendiri. Padahal, dalam pernikahan pasangan membuat komitmen jangka panjang yang mempunyai berbagai macam konsekuensi dan menuntut pengorbanan yang tak sedikit. Terasa menakutkan? Wajar bila kita merasa kuatir. Apalagi berdasarkan data dari Badan Urusan Peradilan Agama dan Mahkamah Agung, angka perceraian di Indonesia meningkat 70 persen antara tahun 2005 hingga 2010 (Purnama Putra, http://www.republika.co.id). Penyebab perceraian tersebut adalah ketidakharmonisan, tidak adanya tanggung jawab, dan masalah ekonomi.
Untuk bisa menghadapi konsekuensi yang timbul setelah menikah, diperlukan persiapan yang matang secara emosional dan finansial dari kedua pihak. Holman dan Bing (1997) mendefinisikan kesiapan pernikahan sebagai ‘’. . . a perceived ability of an individual to perform in marital roles, and see it as an aspect of the mate selection or relationship developmental process.’’ Sedangkan Dewi (2006) mendefinisikannya sebagai kesediaan individu untuk mempersiapkan diri membentuk ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami dan istri dengan tujuan membentuk keluarga dan rumah tangga yang kekal yang diakui secara agama, hukum, dan masyarakat. Dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kesiapan pernikahan adalah kesediaan atau kemauan individu untuk menjalankan perannya di dalam pernikahan sebagai suami dan istri yang sah secara agama, hukum, dan masyarakat.
Berikut adalah beberapa hal untuk diperhatikan dalam menjawab pertanyaan, “apakah saya sudah siap untuk menikah?”
1. Kematangan Emosional
Kematangan atau kedewasaan emosional bisa dilihat dari cara individu dalam mengatasi dan beradaptasi terhadap perubahan-perubahan dan krisis dalam hidup. Seseorang juga dikatakan dewasa bila mampu membuat dan mempertahankan hubungan personal. Di dalam pernikahan, diperlukan kedewasaan yang lebih dari itu.
Jadi, coba renungkan sejenak, apakah kamu sudah mampu untuk tenang dalam menghadapi masalah dan tidak tenggelam dalam amarah atau air mata? Bagaimana pengalamanmu dalam menghadapi perubahan besar dalam hidup? Apakah kamu dapat dengan cepat beradaptasi, atau justru defensif dan tak mau keluar dari zona nyaman? Bagaimana pola pikirmu saat dilanda krisis? Apakah kamu dengan aktif mencari solusi, atau merasa tertekan sendiri? Setelah menikah, pasangan bisa menjadi potensi dari masalah selama 24 jam dalam sehari, lho.
2. Kematangan Sosial
Suami & istri harus bekerja sama mempertahankan pernikahan
Oke, kamu dan pasangan sudah matang secara emosional. Selanjutnya apakah kalian sudah matang dalam aspek sosial? Bisa diketahui dari dua kriteria sebagai berikut
a) Kencan (proses perkenalan) yang cukup – Meskipun lama berpacaran tidak bisa dijadikan tolak ukur yang pasti untuk kesiapan, selama waktu tersebut seberapa jauh kamu sudah mengenal pasangan? Banyak pasangan selalu berusaha menampilkan sisi terbaiknya sehingga ketika menikah banyak ‘surprise’ seperti kebiasaan-kebiasaan kecil yang mengganggu dan akhirnya menimbulkan masalah. Walaupun dapat diatasi, akan lebih baik bila kamu mengetahuinya sebelum menikah.
b) Enough of single life - sebagai seorang dewasa muda, individu sudah merasakan mengeksplorasi potensi diri, mempunyai pekerjaan, dan menentukan hidup sendiri. Baru kemudian kamu dapat melangkah ke tahap berikutnya. Pastikan kamu sudah melakukan semua hal yang tidak bisa kamu lakukan jika sudah memiliki pasangan, seperti tenggelam dalam hobi, berlibur atau pulang larut karena pergi bersama teman, dan lainnya.
3. Kesehatan Emosional
Individu dikatakan sehat secara emosional bila stabil, tidak cemas, dan merasa aman (secure). Ingat, saat sudah menikah, kamu harus memikirkan pasangan selain dirimu sendiri.
4. Persiapan Peran
Kamu harus mengetahui peran sosial sebagai seorang pasangan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Hal ini bisa dilihat dari significant others (Bandura dalam Wortman, 2004) atau pencarian informasi dari literatur/ konseling. Sudahkah kamu mengecek ke pasangan mengenai harapan-harapan yang dimilikinya dalam kehidupan ber-rumah tangga? Bisakah kamu memenuhinya? Jika belum, apa yang harus dilakukan agar tercapai kompromi?
5. Kemampuan Komunikasi
We cannot not communicate. Apa pun kebutuhanmu, kini akan dirasakan oleh suami atau istrimu. Tapi tak semua orang dapat menangkap kebutuhan pasangannya, dan tak semua orang dapat menjelaskan apa yang dibutuhkannya. Jadi, daripada merajuk, apakah sekarang kamu sudah memakai pola yang lebih komunikatif saat pasanganmu tidak mengerti apa yang kamu inginkan?
6. Kemampuan Finansial
Kemampuan finansial di sini tidak terbatas dalam arti kemampuan pasangan untuk membeli rumah, mobil dan materi lainnya. Kemampuan finansial juga berarti visi dalam mengelola bersama pemasukan yang didapatkan tiap bulannya, kemampuan untuk menabung dan menahan diri untuk tidak membeli barang yang tidak dibutuhkan, dan kemampuan untuk mencari investasi masa depan. Untuk pasangan baru, kemampuan finansial juga berarti kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan uang yang masih sangat terbatas tanpa sokongan dari orangtua. Have you?
7. Kemampuan Memotivasi Pasangan
Komunikasi adalah senjata utama dalam perkawinan
Duvall dan Miller (1985) mengatakan bahwa pernikahan dapat disimbolkan oleh roller-coaster: kadang kita berada di atas (bahagia), kadang kita berada di bawah (menghadapi masalah). Karena masalah adalah hal yang sudah dapat dipastikan kedatangannya, maka pasangan harus memiliki motivasi untuk mempertahankan hubungan mereka, seperti apa pun situasinya. Jika pasangan tidak dapat saling memotivasi untuk mempertahankan hubungan, maka bukan tidak mungkin bahwa solusi pertama yang diambil saat menemui hambatan adalah memutuskan hubungan.
Coba ingat terakhir kali kamu dan pasangan bertengkar hebat. Berapa lamakah kalian dapat bertahan sebelum berpikir, “kalau begini, lebih baik putus saja, deh”?
8. Kemampuan Menerima Tekanan dari Keluarga Pasangan
Walau tidak bermaksud seperti itu, keluarga terkadang memburu-burukan suatu pasangan dalam menjalankan hidupnya. Keluarga sering kali “menekan” pasangan untuk cepat-cepat punya anak, membeli rumah, menguasai peran sebagai suami/istri, dan lain-lain. Terkadang, dilema antara mementingkan pasangan dan memenuhi “tekanan” keluarga dapat menjadi sumber pertengkaran. Kamu dan pasangan sebaiknya mulai memupuk kemampuan untuk “menolak” tekanan yang memang belum saatnya untuk dijalankan dan fokus kepada prioritas kalian berdua. Sekali-sekali, sedikit berkompromi dengan kemauan keluarga memang ada baiknya juga, tetapi pastikan kedua pasangan sudah menyetujuinya.
Bagaimana, sudah siapkah kamu menikah?
Sumber : http://ruangpsikologi.com/kesiapan_menika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar